BMKG Prediksi Musim Hujan Sulut Mulai Minggu Ketiga Oktober, Pemkot Kotamobagu Siapkan Langkah Antisipasi

El Nino diprediksi masih bertahan hingga awal 2027, pemerintah mendorong warga dan petani menyiapkan langkah antisipasi sejak dini.

Telusur.news, KOTAMOBAGU — Warga Kota Kotamobagu diminta mulai meningkatkan kewaspadaan menghadapi perubahan musim yang diperkirakan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan di wilayah Sulawesi Utara diprediksi mulai memasuki fase awal pada pekan ketiga Oktober hingga November 2026. Di sisi lain, fenomena El Nino diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027.

Informasi tersebut disampaikan Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Kotamobagu, Noval C. Manoppo, S.E., M.M., usai mengikuti rapat melalui Zoom Meeting bersama BMKG terkait press release musim hujan 2026–2027, Jumat (2/10/2026).

“Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam rapat tersebut, BMKG memprediksi fenomena El Nino masih akan bertahan hingga awal Tahun 2027 di Indonesia. Untuk wilayah Sulawesi Utara, awal musim hujan dengan intensitas ringan diprediksi mulai berlangsung pada minggu ketiga bulan Oktober hingga November 2026,” ujar Noval.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah maupun masyarakat. Pasalnya, pergeseran musim dapat memberikan dampak terhadap sejumlah sektor strategis, mulai dari kebencanaan, pangan, lingkungan hingga kesehatan.

Pada sektor kebencanaan, masyarakat diminta tidak lengah terhadap potensi kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan. Sementara bagi sektor pertanian, petani diharapkan mulai menyesuaikan pola dan jadwal tanam dengan kondisi iklim.

“Para petani diharapkan dapat menyesuaikan jadwal tanam dengan kondisi iklim serta mempertimbangkan penggunaan varietas tanaman yang memiliki siklus tanam lebih pendek,” jelasnya.

Tak hanya itu, pemerintah juga mewaspadai dampak perubahan musim terhadap lingkungan. Mekanisme respons perlu disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan memburuknya kualitas udara akibat mundurnya musim hujan.

Sementara di sektor kesehatan, langkah pencegahan juga menjadi perhatian. Pemerintah dan masyarakat diminta memperkuat pemberantasan sarang nyamuk (PSN) serta memastikan kesiapan fasilitas kesehatan menghadapi kemungkinan peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) setelah musim hujan tiba.

Noval menekankan bahwa langkah antisipasi tidak seharusnya menunggu kondisi memburuk. Kesiapsiagaan perlu dibangun sejak awal agar potensi dampak perubahan musim dapat ditekan.

“Berbagai langkah antisipasi tersebut penting dilakukan sejak dini agar pemerintah bersama masyarakat dapat meminimalkan dampak yang mungkin timbul akibat perubahan kondisi musim,” terangnya.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat Kotamobagu untuk tetap waspada dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan kondisi cuaca.

“Kita perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan sejak sekarang, sehingga ketika kondisi musim berubah, pemerintah dan masyarakat sudah memiliki langkah antisipasi yang diperlukan,” pungkasnya.**

(YN)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.